KUBET – Ratusan Muslim di Myanmar wafat tertimbun bangunan masjid akibat gempa – ‘Mereka akan dikenang sebagai syuhada’

Ratusan Muslim di Myanmar wafat tertimbun bangunan masjid akibat gempa – ‘Mereka akan dikenang sebagai syuhada’

Soe Nay Oo menatap cemas ke kejauhan di kamar tidurnya, mengenakan topi dan baju imam berwarna putih, serta kacamata berbingkai hitam. Di latar belakang, Anda dapat melihat tempat tidurnya dan kaus oblong tergantung di dinding.

Sumber gambar, BBC / Neha Sharma

Keterangan gambar, Soe Nay Oo adalah seorang imam di Myanmar tetapi telah bekerja untuk kelompok hak asasi manusia di Thailand setelah melarikan diri dari kudeta 2021.

  • Penulis, Zeyar Htun dan Tessa Wong
  • Peranan, BBC Burma dan BBC News
  • Melaporkan dari Bangkok

Seorang pria kehilangan sekitar 170 orang yang dicintainya akibat gempa dengan magnitudo 7,7 di Myanmar pada 28 Maret lalu. Gempa itu menewaskan lebih dari 2.700 orang, menyebabkan 4.521 orang luka-luka, dan 441 orang hilang.

Ketika azan berkumandang di Sagaing, Jumat (28/03) lalu, ratusan umat Islam bergegas menuju lima masjid yang terletak di Myanmar bagian tengah itu untuk beribadah.

Mereka bersemangat untuk melaksanakan salat Jumat terakhir pada bulan Ramadan. Perayaan Idulfitri yang menandai akhir dari bulan suci itu tinggal menghitung hari.

Namun, pada pukul 12.51 waktu setempat, gempa bumi melanda Myanmar. Tiga masjid runtuh, termasuk yang terbesar yaitu Masjid Myoma. Hampir semua jemaat di dalamnya wafat.

Ratusan kilometer jauhnya, mantan imam masjid Myoma, Soe Nay Oo, juga merasakan gempa di Kota Mae Sot, Thailand, dekat perbatasan Myanmar.

Beberapa hari berikutnya, Soe Nay Oo, mengetahui bahwa sekitar 170 kerabat, teman, dan anggota jemaatnya telah meninggal dunia—sebagian besar di masjid.

Beberapa di antara mereka adalah tokoh terkemuka dalam komunitas Muslim yang erat di kota itu.

“Saya memikirkan semua orang yang kehilangan nyawa, dan anak-anak korban—beberapa dari mereka masih anak-anak kecil,” katanya kepada BBC.

“Saya tidak bisa menahan air mata ketika membicarakan hal ini.”

Lebih dari 2.700 orang tewas akibat gempa yang terjadi di dekat Sagaing dan Mandalay, kota kedua terbesar di Myanmar.

Jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat seiring tim penyelamat yang terus mengevakuasi jenazah dari reruntuhan.

peta gempa myanmar
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca

Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Meskipun dikenal dengan peninggalan kuil-kuil Buddha nan kuno, Sagaing dan Mandalay juga dihuni komunitas Muslim yang jumlahnya signifikan.

Diperkirakan ada 500 umat Islam yang wafat saat sedang salat di masjid-masjid, menurut angka yang diberikan oleh Panglima Militer Myanmar sekaligus pemimpin negara itu, Min Aung Hlaing, pada Senin (31/03).

Saksi mata di Sagaing mengatakan ke BBC bahwa jalan tempat masjid-masjid itu berada, Jalan Myoma, adalah area yang paling parah terkena dampak gempa di kota itu. Banyak rumah lain di jalan itu juga runtuh.

Ratusan orang disebut mencari perlindungan di pinggir jalan, baik karena kehilangan tempat tinggal maupun terlalu takut untuk kembali ke rumah mereka jika terjadi gempa susulan. Selain itu, pasokan makanan juga dilaporkan langka.

Di Myoma saja, lebih dari 60 orang dilaporkan tewas tertimpa reruntuhan, sementara puluhan lainnya meninggal di Masjid Myodaw dan Moekya. Dilaporkan masih banyak jenazah yang terus dievakuasi pada Selasa (01/04) lalu.

Ada indikasi bahwa para jemaat telah mencoba untuk menyelamatkan diri, menurut Soe Nay Oo, yang telah menerima banyak laporan dari anggota komunitasnya yang selamat.

Saat ini, Soe Nay Oo tinggal di Kota Mae Sot, Thailand, bersama istri dan putrinya. Mereka melarikan diri dari Myanmar, setelah kudeta yang terjadi pada 2021 lalu.

Menurutnya, ada jenazah-jenazah yang ditemukan di area tempat para jemaat berwudu.

Beberapa jasad juga ditemukan menggenggam tangan jasad lain, yang tampak seperti upaya untuk menjauh dari bangunan yang runtuh itu.

Foto-foto yang dikirim ke Soe Nay Oo menunjukkan masjid Myoma hancur total.

Sumber gambar, Dokumen SOE NAY OO

Keterangan gambar, Foto-foto yang dikirim ke Soe Nay Oo menunjukkan masjid Myoma hancur total.

Di antara banyak orang yang wafat, salah satunya adalah sepupu istri Soe Nay Oo.

Kematiannya, kata Soe Nay Oo, adalah “hal paling menyakitkan yang pernah saya alami” selama 13 tahun dirinya sebagai seorang imam.

“Dialah yang paling menunjukkan cintanya kepada kami,” kata Soe Nay Oo. “Semua orang di keluarga mencintainya. Kehilangannya begitu menyedikan bagi kami.”

Sepupu istrinya yang lain, seorang pengusaha yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, juga meninggal dunia.

“Dia selalu memanggil saya Nyi Lay [‘adik kecil’ dalam bahasa Burma]… Ketika saya menikahi istri saya, dia berkata bahwa kami sekarang adalah keluarga dan dia selalu memperlakukan saya seperti adik kecilnya sendiri,” kata Soe Nay Oo.

“Dia selalu ada untuk kami kapan pun kami membutuhkannya. Saya telah kehilangan orang-orang yang saya cintai seperti saudara sendiri, seperti dia.”

Beberapa teman dekat yang meninggal termasuk mantan asisten imam Soe Nay Oo, yang ia kenang karena etos kerjanya yang kuat dan bakat yang luar biasa dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Baca juga:

Kepala sekolah negeri setempat, yang juga satu-satunya pengurus perempuan masjid Myoma, turut meninggal dunia.

Ia dikenang oleh Soe Nay Oo sebagai seorang yang baik hati karena sering membiayai program masjid dari kantongnya sendiri.

Soe Nay Oo mengatakan setiap kali mendengar tentang orang-orang dari komunitasnya yang meninggal, dia mengalami gelombang kesedihan baru.

“Saya merasa hancur… kenangan indah saya tentang mereka selalu terlintas dalam pikiran saya.”

“Meskipun mereka bukan saudara dekat, mereka adalah orang-orang yang selalu menyambut saya, mengikuti doa saya, dan selalu berdoa bersama.”

Fakta bahwa mereka meninggal di bulan Ramadan tidak luput dari perhatiannya. “Semua yang meninggal telah kembali ke rumah Allah. Mereka akan dikenang sebagai syuhada [meninggal di jalan Allah],” katanya.

Bangunan lain di Sagaing, termasuk stasiun pemadam kebakaran ini, juga runtuh.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Bangunan lain di Sagaing, termasuk stasiun pemadam kebakaran ini, juga runtuh.

Seperti di daerah lain di Myanmar yang terkena dampak gempa, komunitas ini berjuang untuk mengevakuasi dan menguburkan banyak jenazah.

Hal ini diperumit oleh pertempuran yang sedang berlangsung antara junta militer dan kelompok perlawanan.

Tempat Permakaman Muslim di Sagaing dekat dengan daerah yang dikuasai oleh kelompok milisi Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF). Lokasi ini telah ditutup untuk umum selama beberapa tahun.

Selain itu, militer terus membom beberapa bagian wilayah Sagaing setelah gempa.

Komunitas Muslim di Sagaing harus memindahkan jenazah korban gempa ke Mandalay dengan menyeberangi Sungai Irrawaddy menggunakan satu-satunya jembatan yang menghubungkan kedua kota tersebut, menurut Soe Nay Oo.

Jenazah mereka disemayamkan di masjid terbesar Mandalay untuk dimakamkan. Beberapa jenazah belum bisa dimakamkan dalam waktu 24 jam setelah kematian, sesuai dengan aturan dalam agama Islam.

“Bagi umat Islam, ini adalah hal yang paling menyedihkan. Kami tidak dapat memakamkan keluarga kami sendiri di akhir perjalanan mereka,” katanya.

Para penyintas telah berusaha membantu penyelamatan, bahkan ketika mereka sendiri tengah berjuang melawan trauma.

“Beberapa dari komunitas saya meminta saya berdoa untuk mereka. Sejujurnya, mereka bahkan tidak bisa menggambarkan kehilangan mereka dengan kata-kata ketika saya berbicara dengan mereka.”

Sulit bagi Soe Nay Oo untuk berada jauh dari jemaat lamanya. Seperti banyak orang lain dari Myanmar yang telah bermigrasi ke luar negeri, dia merasa bersalah sebagai penyintas.

“Jika saya masih menjadi imam, pada saat gempa, saya akan pergi bersama mereka – itu bisa saya terima dengan damai. Jika tidak, setidaknya saya bisa berada di antara mereka untuk melakukan apa pun yang saya bisa.”

“Sekarang saya tidak bisa kembali. Sangat menyakitkan untuk memikirkannya.”

Soe Nay Oo mulai terisak.

“Perasaan sedih dan frustrasi yang saya rasakan sekarang, saya belum pernah merasakan ini sebelumnya dalam hidup saya. Saya adalah pria yang jarang menangis.”

Soe Nay Oo menambahkan bahwa dirinya tak bisa tidur selama berhari-hari.

Kekhawatirannya semakin berat karena dia belum mendengar kabar dari beberapa anggota keluarga, termasuk saudara kandungnya sendiri yang berada di Mandalay.

Soe Nay Oo telah menghentikan sementara pekerjaannya untuk kelompok hak asasi manusia di Thailand.

Saat ini, dia fokus membantu mengkoordinasikan upaya penyelamatan di Sagaing—berbagi informasi apa pun yang bisa dia dapatkan dari kontaknya di kota tersebut.

Setidaknya 1.000 umat Muslim di daerah tersebut telah terkena dampak dan mereka masih membutuhkan bantuan, perkiraannya.

“Saya merasa lega hanya ketika seseorang di lapangan meminta bantuan, dan saya bisa membantu mereka.”

Tinggalkan Balasan